Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 29 Desember 2011

Fenomena Sosial


Manusia Gerobak
Kehadiran pemulung memang bukan hal baru, tetapi ada perubahan mendasar dalam pola kehidupan mereka. Fenomena pemulung dengan gerobaknya yang berukuran 2 m x 1 m sebagai alat produksi sekaligus tempat tinggal bersama anggota rumah tangganya saat ini semakin marak, meramaikan sudut-sudut Yogyakarta. Meminjam istilah Twikromo (1999), mereka inilah yang disebut dengan pemulung jalanan. Pada siang hari mereka berkeliling dari satu tempat sampah ke tempat sampah lainnya. Pada malam hari mereka menempati emperan toko, pinggiran jalan, kolong jembatan, dan ruang publik lainnya untuk beristirahat. Kisah-kisah manusia gerobak menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseharian  mereka. Untuk makan sehari-hari, kadang mereka pun harus berutang.
Lebih tragisnya lagi, menguburkan mayat pun seperti sesuatu yang mustahil bagi mereka (Warta Kota, 2005). Pengaruh globalisasi yang menyebabkan kota mengalami tekanan lebih keras daripada sebelumnya tidak secara serta-merta memunculkan  kecenderungan sifat yang pasrah dalam menghadapi masa depan dan menyerah pada nasib. Bahkan, mereka lebih berani menampakkan diri ketika mereka menjalankan aktivitas yang disebut oleh Dieter- Evers (1980) sebagai “ekonomi bayangan”. Mereka juga tegar ketika menghadapi tekanan-tekanan struktural seperti penggusuran dari pihak negara yang menganggap bahwa mereka merupakan sumber kekumuhan dan perusak ketentraman yang sulit diatur dan hanya menjadi permasalahan bagi pemerintah kota. Mereka juga tidak terlalu peduli dengan warga kota yang umumnya mencitrakannya secara negatif (Twikromo, 1999).
Sebagai subjek yang aktif, para manusia gerobak senantiasa tetap kreatif dalam melahirkan taktik-taktik baru yang mereka peroleh dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Taktik-taktik kreatif maupun  manipulatif tersebut merupakan upaya mereka untuk menciptakan kondisi yang dapat menghasilkan dan menguntungkan dalam rangka mencapai tujuan-tujuan mereka, yakni pemenuhan kebutuhan hidup mereka, sehingga mereka dapat tetap bertahan dalam menghadapi lingkungan dan kondisi sosial yang berubah-ubah di tengah kemiskinan perkotaa serta batas-batas antara manusia gerobak dan orang lain pu menjadi baur. Hal ini jelas berbeda dengan cara pandang yang  memotret golongan miskin seperti manusia gerobak sebagai orang yang tidak berdaya, lemah, dan apatis karena mereka memiliki kebudayaan kemiskinan. 
Tidak dapat diketahui dengan  jelas mulai kapan manusia gerobak berada di Yogyakarta. Merujuk kepada Jellinek (1994), kegiatan mendaur ulang gelas, kertas, kardus, besi, kaleng, dan onderdil mobil sudah ada sejak 1950-an. Sampai saat ini, sejauh yang penulis ketahui, belum ada data pasti yang menunjukkan jumlah pemulung, khususnya manusia gerobak di Yogyakarta. Kesulitan tersebut muncul karena pertama, kehadiran pemulung tidak dianggap ”ada” sehingga pemerintah tidak perlu mencatatnya. Kedua, kesulitan tersebut juga disebabkan oleh kompleksnya kategori yang digunakan untuk menyebut seseorang  itu manusia gerobak atau bukan. Di kalangan pemulung, ada pembedaan sebutan bagi pemulung yang tinggal di jalan, pemulung yang tinggal di rumah kontrakan, dan pemulung yang membeli barang bekas. Pemulung yang tinggal di jalan dan menjadikan gerobak sebagai rumahnya menyebut dirinya sebagai gembel, sementara pemulung  yang tinggal di sebuah rumah, dalam hal ini termasuk juga yang tinggal di lapak, disebut sebagai pemulung  kampung, dan pemulung yang mencari barang bekas dengan membeli dikenal sebagai cinlong. Ketiga, kesulitan untuk menentukan jumlah pemulung juga disebabkan oleh mobilitas dan pasang-surut manusia gerobak yang tinggi. Tingkat dan lokasi kehadiran seorang atau  rumah tangga manusia gerobak tidak menentu, pada suatu rentang waktu tertentu, mereka hadir di jalan, namun pada rentang waktu yang lain,  mereka tidak hadir  pada satu waktu, mereka berada di lokasi toko namun pada waktu lain, mereka berada di stasiun atau pasar. Menurut salah seorang informan, jumlah manusia gerobak kelihatan semakin bertambah. Hal ini ditunjukkan dengan semakin seringnya perjumpaan antarpemulung di jalan dan tempat-tempat lain yang menjadi tujuan dan juga ramainya lokasi-lokasi tertentu pada waktu malam dengan gerobak-gerobak pemulung yang terparkir.
Dalam banyak kasus, sektor informal perkotaan lebih banyak dimasuki oleh mereka yang berpendidikan formal rendah, seperti halnya manusia gerobak. Kebanyakan manusia gerobak menyatakan bahwa rata-rata tingkat pendidikan  mereka rendah, setingkat sekolah dasar. Namun, di antara mereka, terdapat juga manusia gerobak yang sempat mengenyam pendidikan di sekolah menengah tingkat atas, bahkan ada manusia gerobak yang  berpendidikan setingkat strata satu. Dengan demikian, pilihan kerja sebagai pemulung jelas tidak tergantung pada status pendidikan seseorang. Tingkat pendidikan rendah hanya memberi seseorang sedikit alternatif pekerjaan yang diinginkan sekaligus menjadi justifikasi atas ketidakmampuan orang tersebut dalam mendapatkan pekerjaan yang dinilai lebih layak. Menjadi manusia gerobak merupakan sebuah proses. Pengalaman-pengalaman masa lampau seseorang turut memengaruhi orang tersebut dalam memilih menjadi manusia gerobak. Dalam kebanyakan kasus, orang tersebut telah  memiliki pengalaman kerja, ada yang formal namun lebih banyak yang nonformal. Pengalaman kerja nonformal berwujud pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, pedagang asongan, kuli bangunan, pemulung menetap, dan sejenisnya. Pengalaman dalam sektor formal berwujud  pekerjaan kantoran. Ada seorang manusia gerobak yang pernah menjadi staf di sebuah perusahaan.Menurut tempat asalnya, manusia gerobak dapat dikategorikan menjadi dua golongan: pertama, mereka yang telah tinggal di Yogyakarta sebelumnya dan, kedua, mereka yang berasal dari desa. Golongan pertama umumnya telah memiliki pengalaman kerja terutama pada sektor nonformal. Bagi mereka, pilihan menjadi manusia gerobak didasarkan pada pengalaman kerja sebelumnya yang tidak menguntungkan, baik sebagai akibat kurangnya pendapatan, kerugian usaha, maupun ketidakbebasan. Golongan ini memandang bahwa pekerjaan sebelumnya membutuhkan  modal yang tidak sedikit. Kasus lain menunjukkan bahwa peralihan terjadi karena usia yang tak sesuai lagi sehingga manusia gerobak tersebut kemudian diberhentikan dari pekerjaan sebelumnya. Demikian pula halnya dengan kebiasaan kerja dan hidup di jalan. Ada yang pada awalnya bekerja sebagai pemulung menetap, namun kemudian menjadi manusia gerobak karena rumahnya digusur. Pada golongan kedua, alasan menjadi pemulung lebih karena tergiur oleh sosialisasi tetangga di desa yang menjanjikan mudahnya mencari pekerjaan dengan pendapatan besar di Jakarta. Namun, di antara golongan ini, ada yang sejak awal memang sudah meniatkan diri untuk menjadi pemulung di Jakarta karena pekerjaan memulung mudah untuk dilakukan, tidak membutuhkan persyaratan pendidikan, dan besarnya tingkat konsumsi warga kota. Ada pula yang mengungkapkan bahwa ia berniat menjadi pemulung karena diajak oleh teman-teman sekampungnya yang juga menjadi pemulung. Oleh karena itu, tidak ada lagi tujuan orang melakukan urbanisasi selain untuk menjadi pemulung, mengumpulkan barang bekas yang berserakan di kota, benda-benda kotor yang dihindari namun bernilai. 
beberapa faktor yang menyebabkan banyak orang menjadi pemulung atau manusia gerobak daripada bekerja di sektor informal antara lain:
a) Meningkatnya pasar barang bekas. Barang bekas biasanya didefinisikan sebagai sampah. Barang bekas bagi sebagian besar orang mungkin tidak memiliki makna dan nilai yang signifikan. Seiring tuntutan penyelamatan lingkungan, barang bekas merupakan salah satu masalah. Tuntutan itu mendorong diciptakannya teknologi-teknologi daur ulang barang bekas agar barang-barang tersebut dapat dimanfaatkan dan digunakan kembali. Pada saat itulah barang bekas memiliki pasar yang cukup besar. Di sinilah manusia dapat memainkan perannya, menjadi pengumpul barang bekas yang akan dipasok ke industry daur ulang. Kondisi itu selanjutnya membuka peluang dan menjadi alternatif yang menarik, barang bekas menjadi sumber daya yang dapat menghasilkan keuntungan ekonomi secara nyata dan lebih baik. Harga barang bekas terus naik seiring dengan tingginya permintaan industri. Bagi yang mempunyai modal, mereka akan menjadi lapak atau pengepul.
b) Konsumsi masyarakat perkotaan yang tinggi. Hal ini jelas akan menyisakan banyak sampah. Sebagian warga kota dengan seenaknya membuang barang-barang yang tidak diperlukan lagi seperti gelas dan botol plastik, kertas, karton, dan besi-besi. Kebanyakan warga kota tidak memiliki cukup pengetahuan dan kecermatan dalam membuang sampah, apalagi untuk mengklasifikasi sampah-sampah tersebut sesuai jenis-jenisnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa sampah  seolah tidak  memiliki  nilai bagi warga kota. Mungkin, sebagian dari mereka tahu bahwa barang bekas tersebut memiliki nilai ekonomi, namun karena jumlahnya sedikit mereka menjadi tidak telaten untuk mengumpulkannya. Selain itu, orang mengidentikkan  barang bekas dengan kekotoran dan kejorokan, sesuatu yang semakin menjauhkan warga kota dari keinginan untuk memanfaatkannya. Kondisi ini turut mendorong usaha pemanfaatan kembali (reuse), sebuah proses konversi yang tidak menggunakan proses kimiawi atau biologis. Reuse adalah penggunaan kembali barang barang yang tidak terpakai lagi tetapi masih layak dan berfungsi sehingga bias dimanfaatkan lagi oleh produsen dan konsumen lainnya.
c) Modal kecil. Pekerjaan memulung tidak membutuhkan modal (uang) banyak. Manusia gerobak yang telah menceburkan diri ke dalam bisnis barang bekas mengungkapkan bahwa mereka memang mengeluarkan modal dalam bentuk uang, tetapi uang yang dikeluarkan tidak sebesar modal pekerjaan lain seperti berdagang, bahkan dalam keadaan tertentu, para pemulung tidak mengeluarkan uang untuk kebutuhan alat kerja maupun kebutuhan rumah tangga. 
d) Risiko yang kecil. Memulung memiliki risiko kerugian yang relatif kecil. Rugi adalah kondisi terjadinya defisit dari modal awal yang dikucurkan. Bagi pemulung, kondisi merugi merupakan suatu pengalaman yang menakutkan, apalagi jika kerugian tersebut terjadi secara terus-menerus. Keadaan  merugi memang dapat menimpa siapa saja dan dipengaruhi oleh beragam faktor. Namun, tetap saja secara ekonomi menjauhi kerugian merupakan sebuah kewajaran. Pengalaman salah satu rumah tangga manusia gerobak menunjukkan bahwa pilihan menjadi pemulung bukan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk melakukan pekerjaan lain, melainkan karena mereka menganggap memulung sebagai pekerjaan yang tidak berisiko rugi dan memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada mereka. Rugi yang mereka maksudkan adalah  rugi secara materi (digaruk, tidak laku, digusur) dan nonmateri dalam bentuk keadaan di bawah kekuasaan orang lain. Memulung memang bukan pekerjaan tanpa risiko, termasuk kerugian. Menurut penuturan beberapa rumah tangga manusia gerobak, kerugian yang mereka alami tidak sama dengan kerugian pada pekerjaan mereka sebelumnya. Barang bekas tidak seperti jualan makanan yang konsumennya tergantung pada selera,  jika tidak laku  makanan bisa basi. Beragam cerita rumah tangga manusia gerobak mengindikasikan bahwa pekerjaan mereka lebih dari sekadar sebuah keterpaksaan.
            Jangan pernah sekali-kali berfikir jika manusia gerobak tidak mempunyai tempat tinggal dan tempat kerja layaknya orang pada umumnya. Bagi manusia gerobak, lokasi merupakan kebutuhan penting sebagai bagian dari tempat tinggal, meski lokasi tersebut bersifat sementara saja dengan kata lain, mereka dapat pindah kapan saja. Lokasi bagi manusia gerobak bermakna alamat, selain juga dapat diartikan sebagai pangkalan, seperti stasiun atau terminal bus. Ke arah manapun mereka mengembara, mereka akan  kembali ke lokasi yang dipilih sebagai tempat tinggal, selama lokasi tersebut masih dianggap tepat. Keragaman sudut kota menjadikan manusia gerobak memiliki cukup banyak pilihan dalam menentukan lokasi. Melalui serangkaian pertimbangan, pada gilirannya manusia gerobak akan memilih lokasi yang dianggap tepat.  Jenis lokasi yang dijadikan sebagai tempat tinggal oleh manusia gerobak yaitu :
a) Kolong jalan tol. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh penulis, manusia gerobak dapat dijumpai di kolong jalan tol. Manusia gerobak umumnya tidak menempati lokasi tersebut dalam jangka waktu yang relatif lama.Manusia gerobak memandang kolong jalan tol sebagai tempat yang relatif terbuka sehingga tempat itu kurang menjadi pilihan utama dan mereka tidak akan terlalu lama bertahan di tempat ini, kecuali kolong tersebut relative tersembunyi. Selama menempati kolong jalan tol, mereka mengaku hanya mendapat teguran dan belum pernah ada penertiban yang dilakukan oleh aparat. Setelah mendapatkan teguran, mereka lebih memilih pindah ke lokasi lain yang dianggap aman.
b) Emperan  toko dan perkantoran. Kedua jenis lokasi ini merupakan lokasi-lokasi lain yang banyak menjadi pilihan manusia gerobak. Kebanyakan manusia gerobak bergerombol, ditandai dengan adanya dua hingga empat gerobak pada satu emper toko. Namun, ada juga yang lebih memilih untuk menyendiri. Pemilihan emper toko sebagai lokasi didasarkan pada beberapa pertimbangan tertentu seperti keluasan lokasi, kondisi lingkungan, kemudahan, keamanan, dan  kedekatan dengan kebutuhan seperti  pangan dan lainnya. Sewaktu manusia gerobak menempati emper toko yang masih digunakan, mereka harus membersihkan lokasi tinggal tersebut terlebih dahulu dan juga harus pindah  sebelum toko  buka. Sewaktu  mereka  menempati halaman toko yang tidak digunakan, mereka tidak direpotkan oleh kewajiban apapun dan merasa lebih bebas. Manusia gerobak yang menempati emper toko menyampaikan bahwa tempat yang mereka tinggali tersebut bukan milik pemerintah melainkan milik si pemilik toko. Meski begitu, tidak semua manusia gerobak meminta izin terlebih dahulu kepada si pemilik toko. Mereka justru menyatakan bahwa semestinya si pemilik toko atau kantor bersyukur dengan adanya pemulung karena toko atau kantornya menjadi aman dan bersih.
c) Stasiun. Stasiun juga menjadi salah satu lokasi tinggal bagi manusia gerobak. Mereka tidak tidur di gerobak mereka melainkan di dalam stasiun, mereka memarkir gerobak mereka di suatu tempat tertentu. Ada juga manusia gerobak yang tinggal di pinggir jalan di belakang stasiun, di samping sebuah tempat sampah. Manusia gerobak memilih stasiun sebagai tempat tinggal mereka karena stasiun  merupakan tempat yang ramai dengan kehadiran orang-orang, baik yang hendak pulang maupun yang hendak pergi dari dalam kota maupun luar kota. Bagian dalam stasiun juga menjadi lokasi tinggal kebanyakan orang jalanan seperti pengemis, pengamen, anak jalanan, dan pedagang asongan. Orang-orang jalanan ini selanjutnya menjadikan stasiun sebagai lokasi tinggal bersama. Hubungan antar orang jalanan pun terjalin lebih erat satu dengan lain.
d) Taman kota. Lokasi selanjutnya yang ditinggali manusia gerobak adalah taman kota. terdapat dua gerobak pemulung sedang diparkir di sebelah pagar besi yang dipasang mengelilingi taman. Pada saat itu, di sebelah kedua gerobak, ada dua perempuan dan satu anak. Seorang perempuan sedang menata kertas, sementara seorang perempuan lainnya sedang berbaring sambil menyusui anaknya. Mereka memilih taman kota sebagai tempa tinggal karena lokasi tersebut luas, rimbun dengan pepohonan, dan pandangan mata orang sedikit terhalangi. Sebagai lokasi istirahat, taman kota lebih tenang suasananya dengan hembusan angin semilir, terutama saat terik matahari.
e) Trotoar. Lokasi  lain yang dipilih manusia gerobak adalah trotoar jalan besar karena alas an kedekatan  akses ke jalan. Trotoar juga dipilih karena memiliki posisi yang lebih tinggi dari jalan sehingga motor tidak akan  melewatinya atau mengusik ketenangan mereka. Selain posisi  yang lebih tinggi daripada jalan raya, pertimbangan lainnya adalah adanya pembatas seperti halnya dengan trotoar di sebelah gereja yang ditempati oleh manusia gerobak. Pertimbangan lainnya adalah tersedianya taman.
f) Pasar. Pasar merupakan lokasi lain yang dipilih manusia gerobak sebagai bagian dari tempat tinggal. Wilayah pasar terdiri dari pertokoan dan lapak-lapak kayu sebagai tempat berdagang. Pasar dipilih karena dianggap aman dari garukan aparat baik pada siang maupun malam hari. Pasar  merupakan  lokasi tinggal yang cukup nyaman, mereka bias menggunakan  lapak-lapak pedagang sebagai tempat tidur.
g) Kontrakan. Tidak semua manusia gerobak tinggal di jalanan. Jika sebelumnya ada sebagian manusia gerobak yang tinggal di lokasi-lokasi yang termasuk kategori jalanan dengan alam raya sebagai bagian dari hidup keseharian, ada juga manusia gerobak yangmemilih tempat kontrakan sebagai tempat tinggalnya. Dari hasil wawancara, ditemukan beberapa manusia gerobak yang menyewa kamar. Namun,meskipun mereka memiliki tempat kontrakan, mereka lebih sering memilih untuk tidur di jalanan, berkumpul dengan sesama pemulung, daripada tidur di tempat kontrakan mereka. 
Seperti yang sudah kita ketahui, Pekerjaan sehari-hari manusia gerobak adalah memulung, yakni mengumpulkan barang bekas untuk dijual atau dimanfaatkan sendiri. Bagi manusia gerobak, tidak ada target lokasi utama sebab barang bekas bisa didapatkan di mana saja. Memang ada manusia gerobak yang hanya memilih satu lokasi tertentu, tetapi kebanyakan dari mereka tidak menggantungkan diri pada satu lokasi saja. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, penulis telah mengidentifikasi beberapa lokasi kerja manusia gerobak sebagai berikut :
a) Jalanan. Bagi manusia gerobak,  jalanan merupakan lokasi antara untuk mencapai lokasi-lokasi yang berada dalam rute kesehariannya. Disebut lokasi antara karena jalanan dianggap hanya sebagai penghubung antarlokasi. Jalanan merupakan ruang publik di mana banyak orang melewati dan membuang barang bekasnya. Di jalan pula, manusia gerobak dapat menemukan bak-bak sampah milik toko atau warung, bahkan beberapa penampung (container) sampah.
b) Permukiman warga. Permukiman warga merupakan tujuan strategis manusia gerobak dalam mengumpulkan barang bekas. Permukiman yang dijelajahi meliputi permukiman kampung maupun kompleks perumahan. Di kampung, manusia gerobak menyusuri gang dan lorong, serta bak sampah  untuk mencari barang bekas yang dibuang, sementara di kompleks perumahan, tempat tujuan manusia gerobak adalah bak-bak sampah di depansetiap rumah  warga setempat. Kebanyakan warga   perumahan dianggap sebagai warga kaya yang tidak peduli dengan barang bekas. Namun, tidak semua kompleks perumahan dapat dimasuki oleh pemulung dengan mudah.
c) Fasilitas sosial seperti rumah sakit, sekolah, dan sejenisnya. Manusia gerobak beranggapan bahwa fasilitas sosial berpotensi menyediakan banyak barang bekas seperti plastik, kardus, kertas, dan lainnya karena ramainya orang yang mengunjungi fasilitas social tersebut. Barang bekas lebih banyak ditemukan di tempat sampah fasilitas sosial tersebut.
d) Penampung (container) sampah. Penampung sampah merupakan target penting dalam mencari barang bekas karena penampung sampah merupakan tempat pembuangan sementara sampah-sampah warga dari beberapa rukun tetangga, bahkan lintas rukun warga, sebelum diangkut ke tempat pembuangan akhir. Wajar jika manusia gerobak meyakini bahwa di penampung sampah banyak terdapat barang bekas yang bisa dipungut.
 Meskipun hidup dalam keterbatasan, dicap hina oleh sebagian orang, namun manusia gerobak/pemulung tidak mengenal kata menyerah dan putus asa untuk mendapatkan hasil yang maksimal agar tecukupi kebutuhan hidupnya. oleh karennya, mereka menggunakan beberapa taktik, yaitu :
1. Membangun dan Mengembangkan Hubungan Sosial
manusia gerobak mulai menyusun dan mengembangkan taktik dengan
membangun hubungan-hubungan dengan pihak lain. Hubungan-hubungan yang dimaksudkan adalah jaringan yang bersifat informal. Hubungan sosial tersebut diperlukan agar kepentingan-kepentingan mereka dapat terpenuhi dan mereka dapat memperoleh sumber daya sosial-ekonomi dan mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapi di perkotaan. Dalam hubungan-hubungan tersebut terdapat dua kategori, yaitu hubungan sosial horizontal dan hubungan sosial vertikal. Hubungan sosial horizontal adalah hubungan-hubungan yang melibatkan pihak-pihak yang memiliki status sosial-ekonomi yang relatif sama, dalam arti sumber daya yang diperoleh maupun sumber daya yang dipertukarkan. Hubungan social vertikal adalah hubungan yang dibangun oleh mereka yang tidak memiliki status sosial ekonomi yang simetris. Apapun kategori hubungannya, hubungan-hubungan sosial yang dibangun dapat berbasis kekerabatan, pertemanan, atau campuran. Dengan hubungan sosial ini, manusia
gerobak akan memperbesar kekuatan sekaligus kemampuan mereka, berkomunikasi dengan yang lain, dan mengoordinasikan tindakan-tindakannya.
2. Memilih Waktu Memulung yang tepat
Sama dengan jenis pekerjaan lainnya, memulung juga memiliki waktu kerja. Waktu-waktu tersebut diciptakan oleh kebiasaan warga, toko, warung, dan fasilitas sosial dalam membuang  sampah. Dengan demikian, untuk menghasilkan pendapatan yang berlebih, manusia gerobak yang bekerja sebagai pemulung harus memiliki pengetahuan, terutama tentang waktu dan tempat dibuangnya barang-barang bekas.
Jika jadwal memulung diikuti secara tepat, manusia gerobak bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan. Jika mereka melanggarnya, mereka akan menemui banyak kesulitan ketika melakukan pekerjaannya. Perubahan waktu warga dalam membuang sampahnya pada gilirannya juga akan memengaruhi waktu memulung manusia gerobak. Tak jarang, manusia gerobak mengubah kebiasaan jam kerjanya karena mereka menganggap bahwa waktu yang diterapkan selama ini sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi yang ada. Wahyu, misalnya, sebelumnya memulung seharian mulai pukul 07.00–19.30, tetapi pada suatu saat yang lain, ia
baru berangkat memulung pada pukul 10.00. Pada pukul 12.00, Wahyu kembali ke tempat tinggalnya dan makan siang. Kalau ia belum sarapan, ia menyebut makan siangnya sebagai ”sarapan”. Wahyu kemudian beristirahat di tempat tinggalnya sampai pukul 15.00 dan setelah pukul 15.00, ia berangkat memulung lagi sampai pukul 18.00 atau 19.00.
Pengetahuan mengenai waktu memulung jelas berimplikasi pada penilaian, baik dari manusia gerobak maupun dari warga

3. Memilih dan Menguasai Tempat
Pemilihan tempat tinggal oleh manusia gerobak merupakan bagian dari upaya pengamanan diri, rumah tangga, dan kekayaan yang mereka miliki. Praktik keruangan sehari-hari yang dilakukan oleh pemulung dengan arti tertentu merupakan sebuah bentuk perlawanan sehari-hari yang merupakan perluasan dari respons mereka terhadap bentuk represi dan dominasi sehari-hari. Pada lokasi kerja, strategi yang dipraktikkan adalah dengan menguasai lokasi tersebut. Setidaknya, ada dua tipe lokasi kerja para pemulung, yaitu lokasi yang tidak dapat dimiliki dan lokasi yang bisa dimiliki. Pada dasarnya, lokasi kerja pemulung tidak dapat dimiliki, namun karena lokasi tersebut dipandang memiliki sumber daya yang berlebih, ada pihak-pihak tertentu yang berusaha menguasainya.
Menggelandang sebagai (Gaya) Hidup
Dalam kesehariannya, mereka tidur di gerobak, emper toko, trotoar, kolong jalan tol, dan tempat-tempat lain yang mereka anggap tepat.
Manusia gerobak memang tidak memiliki rumah, sebuah tempat tinggal seperti yang dibayangkan masyarakat umum. Manusia gerobak tinggal di lokasi-lokasi tanpa batas wilayah publik dan privat dan tanpa dinding dan atap; mereka hidup sebagai gelandangan.
            Sejatinya manusia gerobak atau pemulung tidak dapat dikategorikan sebagai suatu masalah sosial yang ada di Indonesia, selagi keberadaan manusia gerobak/pemulung tersebut tidak menimbulkan kerugian atau dampak negtif terhadap orang banyak dan keberlangsungan kehidupan sosial masyarakat Indonesia ataupun aspek kehidupan lainnya. Lalu mengapa keberadaan manusia gerobak atau pemulung akhir-akhir ini marak dikhawatirkan oleh aparatur pemerintah dan masyarakat Indonesia?
Menurut Soerjono Soekanto masalah sosial budaya adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Masalah sosial budaya muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Banyak sekali faktor yang mengakibatkan terjadinya Masalah sosial budaya, namun secara umum Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
1.       Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2.       Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3.       Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4.       Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.
Beberapa contoh masalah sosial dari empat faktor di atas tidaklah statis adanya, masalah sosial budaya tersebut bisa jadi diakibatkan oleh faktor lain atau beberapa faktor sekaligus. Manusia gerobak atau pemulung dikatakan sebagai salah satu masalah sosial budaya karena dianggap mempunyai beberapa indikator kemiskinan yang ditandai dengan atribut orang miskin ; pendapatan kecil dan tidak menentu, penampilan kumal, menjadikan gerobak sebagi rumah/tempat tinggal, yang kesemuanya itu adalah diakibatkan oleh faktor masalah sosial ; ekonomi. Selain itu, manusia gerobak/pemulung dikategorikan sebagai masalah sosial karena keberadaannya dianggap merugikan. Hal ini dikarenakan ada beberapa oknum manusia gerobak/pemulung yang terkadang melakukan tindakan tidak bertanggungjawab seperti mencuri barang-barang orang lain di tempat umum atau rumah-rumah warga saat memulung, serta ada juga yang ketika memulung mengeluarkan isi dari tong sampah, memungut barang-barang yang dianggap beharga lalu meninggalkanny begitu saja tanpa dikondisikan lagi seperti semula.
Dari secuil fakta memprihatinkan yang penulis sodorkan di atas, seyogyanya para pembaca sekalian bisa memberikan atau merealisasikan solusi yang anda punya untuk mengentaskan salah satu masalah sosial budaya yang ada di Indonesia tersebut. Mungkin bisa dimulai dengan memberikan/menawarkan lowongan pekerjaan yang lebih layak dari memulung atau memberikan pelatihan ketrampilan/enterpreuner secara Cuma-Cuma kepada para manusia gerobak/pemulung di sekitar anda.

 Daftar Pustaka :
Alfian, Mely G. Tan, dan Selo Sumarjan (1980) Kemiskinan Struktural.
Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial.
Alkostar, Artidjo (1986) Potret Kehidupan Gelandangan, Kasus Ujung
Pandang dan Yogyakarta.
Dalam Gelandangan: Pandangan Ilmuan Sosial. Jakarta: LP3ES.
Azrul, Azwar (1990) Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Yayasan Mutiara.
Baker, David (1980) Memahami Kemiskinan di Kota. Jakarta: Prisma, 6 (8), halaman 3-8.
Barker, Chris (2005) Cultural Studies: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Bentang.
Berger, Peter L. dan Thomas Luckman (1990) Tafsir Sosial Atas Kenyataan, Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan. Jakarta: LP3ES. 
Gardner, Katy dan David Lewis (2005) Antropologi, Pembangunan dan Tantangan Postmodern.

Evers, Hans Dieter (1986) Sosiologi Perkotaan: Urbanisasi dan Sengketa Tanah di Indonesia da Malaysia. Jakarta: LP3ES.

0 komentar:

Poskan Komentar